TAK BERPIKIR
Menghitung tahun tak pernah terasa sesuram ini. Satu, dua, tiga, hingga selamanya adalah waktu yang lama. Kita dibuai dalam rona gempita hingga lupa bahwa masing-masing dari kita mampu kecewa, mampu menangis, mampu terluka.
Aku adalah jenuhmu.
Aku adalah lelahmu.
Aku adalah kerjamu.
Aku adalah berat di kepalamu.
Selalu merasa namun tak menyangka akan menyuratkan ini; apakah kamu bahagia? Apakah kamu tenang? Apakah kamu senang?
Pikirku berkecamuk dari petang hingga fajar. Khawatirku berlebihan di beberapa senja namun kamu tak melihat itu sebagai cinta, kamu melihatnya sebagai pikulan pundak yang ingin kamu simpan rapat-rapat.
Aku suka menaruh asa, tapi kini harus berubah karena tusukan pisau dari lidahmu yang kelabu. Aku suka menahan duka, tapi kini harus berubah karena hatiku tak sekuat yang lalu. Aku suka menekan ego, tapi kini harus berubah karena ia hilang makanannya.
Aku adalah sedihku.
Aku adalah hampaku.
Aku adalah sakitku.
Aku adalah berat di kelapaku.
Namun bohong. Kepalaku tak berat karena aku tak berpikir. Pun, aku tak mampu mengerti pola pikir sebagian orang. Semua adalah aku. Semua adalah ulahku.
Jadi, selamat pagi, hari, dari aku yang menelan racun kata-kata dari yang tercinta namun harus tampak baik-baik saja.
#intanratu


Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah visit di blog Intan, silahkan beri kritik dan saran dengan sopan.