BIARLAH

Aku berpikir tentang cerita yang saat ini tengah berjalan. Ketika aku dan kamu merupakan bagian dari hidup satu sama lain. Jelas bukan cerita sempurna.

Tak usah heran, bila malamnya aku mengutukmu, namun di pagi hari ku panggil kamu malaikat.

Dalam satu orang bisa kudapati manis dan pahit sekaligus.

Betapa besar amukanku ketika kamulah penoreh dan penabur garam di atas lukaku. Namun, apa yang bisa dikata jika di waktu lain kamu pula yang mengobatinya.

Aku tak mau membebani diriku dengan ekspektasi sempurna tentang cinta. Sebab hidup memang penuh aral dan rintang.

Ada baiknya juga bila menerima bahwa hal-hal kecil jika berakibat besar maka cukup layak untuk diutarakan.

Jangan memendam, hanya akan membuat jiwamu sakit.

Tapi alangkah baiknya jika mampu mengontrol hal itu tidak untuk di ranah publik. Namun tidak juga memaksa diri terlalu menutupi.

Kita tidak lagi sesumbar tentang apa itu cinta ataupun derita.

Cukup bagiku, untuk senantiasa berada dalam neraca cinta dan benci, garam dan obat, manis dan pahit ini denganmu.

Biarlah menjadi apa adanya kita. Bertumbuh seiring waktu. Belajar dari segenap pengalaman yang memberdayakan ini.

Selama, masih ku lihat usahamu membersamaiku.

Selama, masih ku lihat dalam dirimu keinginan memperbaiki.

Selama, masih terpancar harapan itu darimu.

Maka, aku juga akan mengerahkan segenap kebaikanku, meski di waktu hatiku lapang.


InsyaAllah, dengan pertolongan-Nya, aku bersyukur untuk menyadari bahwa masih ada sakinah diusahakan oleh kita.


#intanratu

Komentar

Postingan Populer